Tampilkan postingan dengan label ideolodi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ideolodi. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 September 2009

Lagu Genjer-genjer, Haruskah Dilarang

Setelah runtuhnya Orde Baru, banyak produk seni dan sastra karya anak bangsa yang semula dilarang, kembali mendapatkan kebebasan. Karya seniman-seniman Lekra dicetak atau diproduksi ulang untuk dipasarkan. Tapi di Solo, masih ada yang melarang Lagu Genjer-genjer diperdengarkan. Lagu tersebut sebenarnya telah ditayangkan secara gamblang dalam Film Gie yang dirilis beberapa waktu lalu. Lembaga Sensor Film sebagai institusi yang berwenang melarang menayangan sebuah produk film juga tidak mempersoalkannya. Tapi hari ini di Solo justru ada sebuah kelompok yang mendatangi sebuah stasiun radio yang memutar soundtrack Film Gie tersebut untuk keperluan ilustrasi sebuah kuis. Lagu tersebut, Genjer-genjer, disebut sebagai lagu terlarang karena milik PKI.
Solo Radio FM, Sebuah stasiun radio di Surakarta didatangi puluhan anggota Corp Hizbullah Divisi Sunan Bonang, yang mengenakan seragam ala militer dan penutup muka. Mereka menilai radio ini sengaja menghidupkan semangat komunisme karena memutar lagu Genjer-Genjer. Puluhan orang tersebut menuntut manajemen radio meminta maaf kepada masyarakat. Anggota Corp Hizbullah berbaris di halaman kantor radio, Komandan corp Yanny Rusmanto menemui pimpinan radio, meminta manajemen Solo Radio bersedia membuat surat permintaan maaf kepada masyarakat, khususnya kepada umat Islam,”
Menurut Yanni, yg mendapat mandat dari MUI setempat. Genjer-genjer adalah lagu milik PKI, partai politik terlarang di Indonesia. Pemutaran lagu itu, menurutnya, telah menyakiti perasaan para korban politik PKI di masa lalu. Karena itulah, mereka mendesak Solo Radio FM meminta maaf secara terbuka kepada publik karena telah memutar lagu tersebut. Jika hal tersebut tidak dilakukan, Yanni mengatakan, laskar akan kembali mendatangi Solo Radio FM dalam jumlah yang lebih besar. Yanny mengakui lagu tersebut sebenarnya merupakan lagu rakyat yang telah ada sebelum PKI lahir. Selain itu, tidak ada muatan komunisme dalam syair yang terdapat dalam lagu yang dipopulerkan oleh artis Lilis Suryani tersebut. “Namun, akhirnya digunakan kelompok komunis,
Sedangkan Koordinator Produser Solo Radio, Dwi Puspita, menceritakan lagu tersebut memang diputar dalam sebuah acara kuis penghantar makan sahur. “Dalam kuis kami memutar beberapa soundtrack film, khususnya film lama,” kata Puspita.Bersama lagu Genjer-Genjer tersebut operator juga memutar beberapa soundtrack film Oshin dan The A Team. Sedangkan lagu Genjer-Genjer digunakan sebagai soundtrack film Gie, sebuah film yang diputar di berbagai gedung bioskop beberapa waktu lalu.
Sebagian orang menuding Lagu Genjer-genjer dicipta PKI untuk menyemangati perjuangan mereka merebut kekuasaan. Tapi sejarah mencatat, inspirasi penciptaan lagu tersebut adalah situasi kehidupan warga Banyuwangi yang teramat menderita di masa penjajahan Jepang.

Inilah syair lengkap Lagu Genjer-genjer :

genjer-genjer neng ledhokan pating keleler
emake thole teka-teka mbubuti genjer
oleh satenong mungkur sedhot sing tolah-tolih
genjer-genjer saiki wis digawa mulih

gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar
dijejer-jejer diuntingi padha didhasar
emake jebeng tuku genjer wadhahi etas
genjer-genjer saiki arep diolah

genjer-genjer mlebu kendhil wedange umob
setengah mateng dientas digawe iwak
sega sapiring sambel penjel ndok ngamben
genjer-genjer dipangan musuhe sega

terjemahan:
genjer-genjer tumbuh liar di selokan
seorang ibu datanglah mencabutinya
dapat sebakul dalam memanennya
genjer (itu) kini tlah dibawanya pulang

genjer-genjer pagi harinya dibawa ke pasar
dijajar, diikat diletakkan di lantai pasar
seorang ibu (lain) membelinya dimasukkan tas
genjer (itu) kini siap dimasak

genjer-genjer dimasukkan ke panci (berisi) air panas
setengah matang ditiriskan untuk lauk
nasi sepiring (dan) sambal di dipan
genjer (akhirnya) dimakan bersama nasi


Konon lagu tersebut diciptakan seorang seniman musik bernama Muhammad Arief ketika melihat situasi warga Banyuwangi yang kesulitan makan saat penjajahan Jepang. Karena situasi terjepit itulah warga Banyuwangi terpaksa mengolah daun genjer (limnocharis flava) atau enceng gondok untuk dimakan sebagai sayuran. Tanaman ini semula hanya dianggap gulma, atau pengganggu. Namun karena kelaparan mendera dan panen sawah tidak mencukupi, akhirnya genjer ini menjadi pilihan dimakan. Jual-beli genjer di pasar juga mulai dilakukan warga.
Lagu tersebut menjadi populer beberapa tahun berikutnya. Bahkan pada dekade 1960-an lagu tersebut mencapai puncak popularitasnya. RRI dan TVRI, dua media massa utama saat itu, sering memutarnya. Lagu tersebut kemudian menjadi lagu publik yang dinyanyikan oleh siapapun; dari anak-anak hingga orangtua, dari politisi hingga buruh dan kuli. PKI, salah satu parpol besar saat itu, termasuk yang sering mempopulerkan lagu tersebut dalam berbagai pertemuan. Mungkin maksudnya adalah untuk menghibur dan mengumpulkan massa. Konon Njoto, salah satu tokoh PKI, adalah penggemar berat lagu Banyuwangi tersebut.
Ki Manteb Sudharsono, seorang dalang wayang kulit ternama, menyatakan bahwa bukan hanya PKI yang mempopulerkan lagu itu. Pada tahun-tahun tersebut, dalang legendaris Ki Nartosabdo juga sering menyanyikan Genjer-genjer dalam pementasannya karena memang lagu itu sangat populer. Padahal Ki Nartosabdo adalah seniman yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) yang bernaung di bawah PNI. Saat itu Manteb masih menjadi murib Ki Nartosabdo. Dia mengaku pada waktu itu sering mengikuti pementasan Ki Narto di berbagai daerah untuk memperdalam kemampuan seni pedalangan kepada sang maestro pewayangan Jawa asal Semarang itu.
Popularitas lagu Genjer-genjer mencapi puncak ketika masuk dapur rekaman. Tak tanggung-tanggung, tercatat ada beberapa penyanyi pernah melantunkan lagu untuk diabadikan. Dua di antaranya adalah Lilis Suryani dan Bing Slamet, penyanyi besar pada era tersebut.
Namun masa keemasan Genjer-genjer segera berhenti seiring situasi politik saat itu. Pengganyangan PKI oleh Orde Baru, merembet juga ke lagu rakyat yang sedang populer ini. Dalihnya adalah, lagu tersebut lagu milik PKI dan diciptakan oleh seorang seniman Lekra.Bahkan dalam penulisan sejarah versi Orde Baru, pada malam pembunuhan para jendral TNI AD di Lubang Buaya, para Pemuda Rakyat dan Gerwani (dua organisasi kepemudaan underbouw PKI) berpesta-pora dengan menyanyikan lagu tersebut.
Belakangan data sejarah versi Orde Baru tersebut dibantah oleh Sersan Bungkus, anggota Cakrabirawa. Sekeluar dari penjara, Bungkus mengatakan tidak ada sukarelawan sipil, apalagi pesta-pora di Lubang Buaya pada malam itu. Setelah diambil paksa dari kediaman masing-masing, dalam suasana hening dan tegang Cakrabirawa menyerahkan para jendral itu kepada Garnisun untuk dieksekusi keesokan harinya.
Sodiqin atau yang akrab disapa Cak Diqin seorang penari, penyanyi dan juga pencipta lagu-lagu campursari yang cukup ternama. menyatakan bahwa lagu tersebut murni lagu rakyat, tidak ada sangkut-pautnya dengan situasi politik atapun menyiratkan idelogi politik tertentu yang bisa dinilai mendukung partai tertentu pada saat itu. Semua kalangan menyanyikan dan mempopulerkannya, termasuk parpol-parpol untuk menggalang massa agar tetap berkumpul.
saat ini banyak karya seniman-seniman Lekra yang dulu dilarang, sekarang sudah beredar bebas. Lagipula isi lagu Genjer-genjer sama sekali tidak politis. Kita harus berpikir jernih tentang penghargaan hak intelektual, dalam hal ini karya seni,sehingga tidak ada alasan yang kuat bagi siapapun pada saat ini untuk melarang pemutaran lagu Genjer-genjer.

sumber:
http://www.detiknews.com/read/2009/09/14/122309/1203037/10/putar-lagu-genjer-genjer-radio-di-solo-didesak-minta-maaf

http://www.detiknews.com/read/2009/09/14/133728/1203091/10/genjer-genjer-karya-seni-korban-politik

http://www.detiknews.com/read/2009/09/14/142444/1203172/10/haruskah-ada-pelarangan-genjer-genjer

http://www.tempointeraktif.com/hg/seni/2009/09/14/brk,20090914-197895,id.html

Kamis, 10 September 2009

Punk antara antara fashion & ideologi

Punk merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Pada awalnya, kelompok punk selalu dikacaukan oleh golongan skinhead. Namun, sejak tahun 1980-an, saat punk merajalela di Amerika, golongan punk dan skinhead seolah-olah menyatu, karena mempunyai semangat yang sama. Namun, Punk juga dapat berarti jenis musik atau genre yang lahir di awal tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik.

Gerakan anak muda yang diawali oleh anak-anak kelas pekerja ini dengan segera merambah Amerika yang mengalami masalah ekonomi dan keuangan yang dipicu oleh kemerosotan moral oleh para tokoh politik yang memicu tingkat pengangguran dan kriminalitas yang tinggi. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun terkadang kasar, beat yang cepat dan menghentak.

Banyak yang menyalahartikan punk sebagai glue sniffer dan perusuh karena di Inggris pernah terjadi wabah penggunaan lem berbau tajam untuk mengganti bir yang tak terbeli oleh mereka. Banyak pula yang merusak citra punk karena banyak dari mereka yang berkeliaran di jalanan dan melakukan berbagai tindak kriminal.

Punk lebih terkenal dari hal fashion yang dikenakan dan tingkah laku yang mereka perlihatkan, seperti potongan rambut mohawk ala suku indian, atau dipotong ala feathercut dan diwarnai dengan warna-warna yang terang, sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, anti kemapanan, anti sosial, kaum perusuh dan kriminal dari kelas rendah, pemabuk berbahaya sehingga banyak yang mengira bahwa orang yang berpenampilan seperti itu sudah layak untuk disebut sebagai punker.

Punk juga merupakan sebuah gerakan perlawanan anak muda yang berlandaskan dari keyakinan we can do it ourselves. Penilaian punk dalam melihat suatu masalah dapat dilihat melalui lirik-lirik lagunya yang bercerita tentang masalah politik, lingkungan hidup, ekonomi, ideologi, sosial dan bahkan masalah agama.


Gaya hidup dan Ideologi

Psikolog brilian asal Rusia, Pavel Semenov, menyimpulkan bahwa manusia memuaskan kelaparannya akan pengetahuan dengan dua cara. Pertama, melakukan penelitian terhadap lingkungannya dan mengatur hasil penelitian tersebut secara rasional (sains). Kedua, mengatur ulang lingkungan terdekatnya dengan tujuan membuat sesuatu yang baru (seni).

Dengan definisi diatas, punk dapat dikategorikan sebagai bagian dari dunia kesenian. Gaya hidup dan pola pikir para pendahulu punk mirip dengan para pendahulu gerakan seni avant-garde, yaitu dandanan nyleneh, mengaburkan batas antara idealisme seni dan kenyataan hidup, memprovokasi audiens secara terang-terangan, menggunakan para penampil (performer) berkualitas rendah dan mereorganisasi (atau mendisorganisasi) secara drastis kemapanan gaya hidup. Para penganut awal kedua aliran tersebut juga meyakini satu hal, bahwa hebohnya penampilan (appearances) harus disertai dengan hebohnya pemikiran (ideas).

Punk selanjutnya berkembang sebagai buah kekecewaan musisi rock kelas bawah terhadap industri musik yang saat itu didominasi musisi rock mapan, seperti The Beatles, Rolling Stone, dan Elvis Presley. Musisi punk tidak memainkan nada-nada rock teknik tinggi atau lagu cinta yang menyayat hati. Sebaliknya, lagu-lagu punk lebih mirip teriakan protes demonstran terhadap kejamnya dunia. Lirik lagu-lagu punk menceritakan rasa frustrasi, kemarahan, dan kejenuhan berkompromi dengan hukum jalanan, pendidikan rendah, kerja kasar, pengangguran serta represi aparat, pemerintah dan figur penguasa terhadap rakyat.

Akibatnya punk dicap sebagai musik rock and roll aliran kiri, sehingga sering tidak mendapat kesempatan untuk tampil di acara televisi. Perusahaan-perusahaan rekaman pun enggan mengorbitkan mereka.

Gaya hidup ialah relatif tidak ada seorangpun memiliki gaya hidup sama dengan lainnya. Ideologi diambil dari kata "ideas" dan "logos" yang berarti buah pikiran murni dalam kehidupan. Gaya hidup dan ideologi berkembang sesuai dengan tempat, waktu dan situasi maka punk kalisari pada saat ini mulai mengembangkan proyek "jor-joran" yaitu manfaatkan media sebelum media memanfaatkan kita. Dengan kata lain punk berusaha membebaskan sesuatu yang membelenggu pada zamannya masing-masing.

Punk dan Anarkisme

Kegagalan Reaganomic dan kekalahan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam di tahun 1980-an turut memanaskan suhu dunia punk pada saat itu. Band-band punk gelombang kedua (1980-1984), seperti Crass, Conflict, dan Discharge dari Inggris, The Ex dan BGK dari Belanda, MDC dan Dead Kennedys dari Amerika telah mengubah kaum punk menjadi pemendam jiwa pemberontak (rebellious thinkers) daripada sekadar pemuja rock n’ roll. Ideologi anarkisme yang pernah diusung oleh band-band punk gelombang pertama (1972-1978), antara lain Sex Pistols dan The Clash, dipandang sebagai satu-satunya pilihan bagi mereka yang sudah kehilangan kepercayaan terhadap otoritas negara, masyarakat, maupun industri musik.

Di Indonesia, istilah anarki, anarkis atau anarkisme digunakan oleh media massa untuk menyatakan suatu tindakan perusakan, perkelahian atau kekerasan massal. Padahal menurut para pencetusnya, yaitu William Godwin, Pierre-Joseph Proudhon, dan Mikhail Bakunin, anarkisme adalah sebuah ideologi yang menghendaki terbentuknya masyarakat tanpa negara, dengan asumsi bahwa negara adalah sebuah bentuk kediktatoran legal yang harus diakhiri.

Negara menetapkan pemberlakuan hukum dan peraturan yang sering kali bersifat pemaksaan, sehingga membatasi warga negara untuk memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Kaum anarkis berkeyakinan bila dominasi negara atas rakyat terhapuskan, hak untuk memanfaatkan kekayaan alam dan sumber daya manusia akan berkembang dengan sendirinya. Rakyat mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa campur tangan negara.

Kaum punk memaknai anarkisme tidak hanya sebatas pengertian politik semata. Dalam keseharian hidup, anarkisme berarti tanpa aturan pengekang, baik dari masyarakat maupun perusahaan rekaman, karena mereka bisa menciptakan sendiri aturan hidup dan perusahaan rekaman sesuai keinginan mereka. Punk etika semacam inilah yang lazim disebut DIY (do it yourself/lakukan sendiri).

Keterlibatan kaum punk dalam ideologi anarkisme ini akhirnya memberikan warna baru dalam ideologi anarkisme itu sendiri, karena punk memiliki ke-khasan tersendiri dalam gerakannya. Gerakan punk yang mengusung anarkisme sebagai ideologi lazim disebut dengan gerakan Anarko-punk.

Punk di Indonesia

shutterstock

Semenjak komunitas punk masuk di Indonesia, mereka kemudian berkembang pesat. Komunitas Taring Babi misalnya berdiri sejak 1996. Dan diduga jumlah mereka sangat banyak karena hampir di tiap kota di Indonesia mereka mempunyai pengikut.

Indonesia itu menjadi nomor satu dari banyaknya komunitas punk di dunia selain Brazil dan Polandia. Komunitas punk ini juga berkembang dari para kelas menengah karena akses informasi dengan mudah didapatkan di sana. Kemudian berkembang ke kelas menengah ke bawah karena di sanalah banyak dari mereka yang tertindas oleh kemajuan zaman.

Pandangan komunitas punk yang tertanam dalam benak masyarakat adalah merupakan murni pandangan yang salah. Kostum hitam-hitam, rambut mohawk, celana street dan sepatu bot merupakan aksesoris lazim yang biasanya dipakai oleh anak-anak punk. Banyak orang sekarang memakai aksesoris punk, tetapi tidak mengenal esensi dari punk itu sendiri. Menjadi punk itu mudah, tinggal beli baju robek-robek bisa aja itu dinamakan punk, tapi menjalani kehidupan punk itu sulit dan harus memegang filosofinya betul-betul,

Memang setiap dandanan tersebut ada maknanya, contohnya rambut mohawk sebagai bentuk penghormatan kepada suku Indian yang tertindas di Amerika dan sepatu bot sebagai penghormatan kepada kelas pekerja atau buruh yang awalnya sering memakai sepatu itu."Ada orang yang berbaju punk hanya hari-hari tertentu saja, berarti dia punk secara kultur atau ’fashion’ saja belum menjadi punk secara pemikiran, Namun, mereka sekarang tidak terjebak dengan penampilan seperti itu. Dandanan seperti itu di mata punk tidak ada apa-apanya,

Dahulu ada semacam pendapat bahwa mereka adalah preman jalanan. Namun, perlahan-lahan stigma yang berkembang di masyarakat itu adalah salah dan lambat laun komunitas punk mulai memperlihatkan kontribusinya kepada masyarakat.

Punk bisa bertahan dan bahkan berkembang karena semangat yang mereka tawarkan. Pada awal masuk ke Indonesia, komunitas punk memplesetkan perkataan "punk" itu sendiri dengan kepanjangan "pemuda urakan nan kreatif".Konsep inilah yang membuat punk bisa bertahan.

Banyak sekali proses kreatif yang mereka lakukan.Berbekal etika DIY, beberapa komunitas punk di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Malang merintis usaha rekaman dan distribusi terbatas. Mereka membuat label rekaman sendiri untuk menaungi band-band sealiran sekaligus mendistribusikannya ke pasaran. Kemudian usaha ini berkembang menjadi semacam toko kecil yang lazim disebut distro.

CD dan kaset tidak lagi menjadi satu-satunya barang dagangan. Mereka juga memproduksi dan mendistribusikan t-shirt, aksesori, buku dan majalah, poster, serta jasa tindik (piercing) dan tatoo. Seluruh produk dijual terbatas dan dengan harga yang amat terjangkau. Dalam kerangka filosofi punk, distro adalah implementasi perlawanan terhadap perilaku konsumtif anak muda pemuja Levi’s, Adidas, Nike, Calvin Klein, dan barang bermerek luar negeri lainnya. Inilah semangat pembangkangan yang mereka perjuangkan, bebas tapi tidak menganggu orang lain,"

Kontribusi lain yang diberikan seperti membersihkan kali atau musala yang rutin mereka lakukan bahkan di Yogyakarta kelompok Taring Babi memberikan pelajaran Bahasa Inggris, les gambar, dan membuka perpustakaan umum dengan tujuan mendekatkan komunitas punk dengan masyarakat.

Komunitas ini mulai membuka diri ke media. Padahal mereka awalnya tidak percaya dengan media karena tidak ada obyektivitas dalam pemberitaan yang melihat punk dari segi fashion saja. Membuka diri ke media karena ingin memperlihatkan inilah wajah komunitas punk yang sebenarnya. Bahkan, komunitas Taring Babi di daerah Jagakarsa sering sekali diliput oleh berbagai media di luar negeri, seperti dari Jerman, Irlandia, dan Jepang.


Harapan


Berbicara mengenai harapan ke depan, kita berharap komunitas punk bisa membuktikan dirinya ada dan memberikan kontribusi positif, serta dapat membaur dengan masyarakatpunk bisa menjadi gerakan sosial baru dan menjadi alternatif gerakan, terutama semangat pemikirannya tidak hanya menjadi sekadar budaya "fashion" belaka.

Inilah harapan yang besar dan sesuatu yang masih harus dibuktikan komunitas punk. Banyak sekali hambatan yang mereka hadapi selain resistensi dari masyarakat. Penolakan terhadap perubahan dari kalangan mereka sendiri pun menjadi kesulitan sendiri. Namun, dengan semangat orang-orang seperti mereka membuat cita-cita dari komunitas ini tidak akan menjadi padam dan akan semakin menyala dengan dukungan berbagai pihak yang menghargai mereka.